Daging Babi Impor cukup menjadi Pemanis, bukan Pewaris!

Wacana mengenai daging babi lokal yang berpotensi menggantikan daging babi impor merupakan isu lama yang telah muncul setidaknya sejak tahun 2009, didorong oleh keinginan untuk melindungi peternak lokal dari ancaman daging babi impor yang lebih murah. 

Pada tahun 2009, Asosiasi Peternak Babi Nasional menyatakan kesiapan mereka untuk memenuhi pasokan daging babi domestik sepenuhnya, menyusul kekhawatiran global akan flu babi yang sempat membuat pemerintah menutup keran impor. Namun, impor daging babi beku tetap berlanjut setelahnya untuk menutupi kekurangan pasokan di pasar tertentu. 

Hingga saat ini, isu ini masih relevan karena:

  • Ancaman bagi peternak lokal: Masuknya daging babi impor, terutama yang harganya jauh lebih murah, sering kali mengancam kelangsungan usaha peternak lokal.
  • Penurunan produksi lokal: Data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025 sempat mencatat adanya penurunan produksi babi di Indonesia, sebagian disebabkan oleh serangan virus (seperti African Swine Fever), yang menyebabkan kenaikan harga daging babi lokal dan membuat masyarakat mencari alternatif, termasuk impor.
  • Potensi besar: Indonesia memiliki potensi besar dalam produksi babi lokal. Karena babi lokal memiliki karakteristik khas dan dapat dikembangkan untuk menyokong perekonomian daerah. 
  • Peran dan dukungan pemerintah yang terlihat tebang pilih dibanding ternak lain.

Upaya Pemerintah Mengatur Tata Niaga Daging Babi Lokal

Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian terus berupaya mengatur tata niaga daging babi untuk melindungi peternak lokal. Selain itu, ada juga upaya kami untuk membuka pasar ekspor domestik terlebih dahulu, yang menunjukkan adanya pengakuan terhadap kualitas dan standar kesehatan tertentu dari peternakan di dalam negeri. 

baca juga artikel ini:

Tantangan dan Komitmen Porky-Porky sebagai Supplier Daging Babi Lokal Ternama

Tantangan Porky-Porky sebagai penyedia daging babi lokal yang diperjualbelikan dalam skala besar maupun ritel antara lain:

  1. Tekanan Harga dari Produk Impor
    Daging babi impor terutama dalam bentuk beku sering masuk dengan  harga lebih murah akibat skala produksi besar dan subsidi di negara asal. Hal ini menekan margin produsen lokal, sekaligus memengaruhi preferensi pasar tertentu yang sensitif terhadap harga.
  2. Risiko Penyakit Ternak
    Wabah seperti African Swine Fever (ASF) menjadi tantangan serius. Selain menurunkan populasi ternak, wabah juga meningkatkan biaya biosekuriti dan menimbulkan fluktuasi pasokan yang sulit diprediksi.
  3. Keterbatasan Rantai Pasok Dingin (Cold Chain)
    Distribusi daging segar berkualitas membutuhkan infrastruktur cold chain yang konsisten dari hulu ke hilir. Di beberapa daerah, keterbatasan logistik masih menjadi kendala dalam menjaga mutu produk hingga ke konsumen.
  4. Standar Kualitas dan Kepercayaan Konsumen
    Konsumen kini semakin kritis terhadap aspek higienitas, traceability, dan keamanan pangan. Supplier lokal harus bekerja lebih keras untuk membangun kepercayaan yang selama ini sering diasosiasikan dengan produk impor.
  5. Skala Produksi dan Kontinuitas Pasokan
    Untuk benar-benar menggantikan impor, Porky-Porky dituntut mampu menjaga pasokan yang stabil, baik untuk pasar tradisional, horeca, maupun industri pengolahan.
supplier daging babi

Namun dari isu yang sedang diupayakan agar daging babi lokal bisa menggantikan daging babi impor untuk merealisasikan isu tersebut:

  1. Mengutamakan Peternak Lokal
    Porky-Porky berkomitmen menyerap hasil ternak peternak lokal guna menjaga keberlangsungan usaha peternak serta memperkuat rantai pasok domestik.
  2. Menjaga Standar Kualitas dan Keamanan Pangan
    Porky-Porky menerapkan standar higienitas, biosekuriti, dan pengolahan yang ketat, mulai dari peternakan hingga distribusi, untuk memastikan produk aman, sehat, dan dapat ditelusuri (traceable) telah bersertifikat NKV.
  3. Investasi pada Biosekuriti dan Kesehatan Ternak
    Sebagai respons terhadap risiko penyakit seperti African Swine Fever (ASF), Porky-Porky melakukan pengawasan kesehatan ternak, edukasi peternak, serta penerapan protokol pencegahan penyakit yang lebih ketat.
  4. Penguatan Infrastruktur Cold Chain
    Porky-Porky menerapkan sistem rantai dingin (cold chain) agar mutu daging babi lokal tetap terjaga dari hulu ke hilir, baik untuk pasar ritel, horeca, maupun industri pengolahan.
  5. Stabilitas Pasokan dan Harga yang Kompetitif
    Dengan perencanaan produksi dan distribusi yang lebih terintegrasi, Porky-Porky berkomitmen menjaga kontinuitas pasokan serta menawarkan harga yang wajar dan kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
  6. Membangun Kepercayaan Konsumen
    Porky-Porky secara aktif mengedukasi pasar bahwa daging babi lokal mampu bersaing dengan produk impor, baik dari sisi kualitas, kesegaran, maupun keamanan pangan.

Kami percaya bahwa daging babi lokal adalah hasil kerja keras peternak Indonesia yang harus dijaga dan dihargai. Porky-Porky adalah sebuah brand yang menjual produk daging babi lokal dengan proses seleksi ketat, higienis, dan sesuai standar keamanan pangan.

  • Segar karena langsung dari peternak lokal
  • Aman & terkontrol karena sudah bersertifikat NKV
  • Membantu roda ekonomi rakyat tetap berputar

Tidak heran jika banyak restoran, katering, hingga UMKM memilih Porky-Porky sebagai brand andalan mereka.Ayo segera order daging babi yang kamu butuhkan hanya di Porky-Porky, tersedia di Shopee/Tokopedia! Follow juga media sosial kami di instagram dan tiktok!