Belakangan ini, seed oils atau minyak nabati dari biji-bijian menjadi perdebatan hangat di dunia kuliner. Banyak klaim yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa minyak ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari peradangan, gangguan hormon, hingga kanker.
Namun, apa sebenarnya yang dikatakan oleh sains?
Sejumlah penelitian menyatakan bahwa asam linoleat (linoleic acid) sejenis asam lemak omega-6 yang banyak ditemukan pada seed oils seperti minyak kedelai, minyak jagung, dan minyak bunga matahari. Beberapa studi laboratorium mengeksplorasi bagaimana asam linoleat dapat berinteraksi dengan jalur tertentu pada sel kanker, termasuk triple-negative breast cancer.
Namun penting untuk dipahami:
penelitian tersebut bersifat mekanistik di laboratorium, bukan bukti langsung bahwa konsumsi seed oils pada manusia menyebabkan kanker.
Studi besar pada manusia serta berbagai lembaga kesehatan global hingga saat ini tidak mengklasifikasikan seed oils sebagai zat karsinogenik. Artinya, hubungan langsung antara konsumsi minyak biji-bijian dengan kanker pada manusia belum terbukti secara ilmiah.
Mengapa Banyak Orang Kembali ke Lemak Tradisional?
Di tengah perdebatan tersebut, sebagian orang mulai kembali melirik lemak hewani tradisional, salah satunya minyak babi (lard).
Minyak babi sebenarnya telah digunakan selama ratusan tahun dalam berbagai budaya kuliner di dunia. Sebelum era minyak nabati industri, lemak hewani seperti lard, tallow, dan butter merupakan bahan memasak utama di banyak dapur.
Beberapa alasan mengapa minyak babi kembali populer antara lain:
1. Lebih Minim Proses Industri
Minyak babi biasanya diperoleh dari proses rendering lemak babi yang relatif sederhana, tanpa melalui proses pemurnian industri kompleks seperti pada beberapa minyak nabati rafinasi.
2. Stabil untuk Memasak
Minyak babi memiliki titik asap yang cukup tinggi, sehingga cocok digunakan untuk berbagai teknik memasak seperti menggoreng, menumis, hingga memanggang.
3. Profil Lemak yang Seimbang
Lard mengandung kombinasi:
- lemak jenuh
- lemak tak jenuh tunggal
- serta sebagian kecil lemak tak jenuh ganda
Komposisi ini membuatnya relatif stabil saat dipanaskan dibandingkan beberapa minyak dengan kandungan PUFA tinggi.
4. Rasa yang Lebih Kaya
Selain faktor nutrisi, minyak babi juga dikenal memberikan aroma dan rasa yang lebih gurih alami pada makanan.
Kesimpulannya
klaim bahwa seed oils menyebabkan kanker belum terbukti secara ilmiah pada manusia. Sementara itu, minyak babi (lard) kembali populer karena lebih minim proses, stabil untuk memasak, dan memberi rasa lebih gurih. Pada akhirnya, yang terpenting adalah keseimbangan konsumsi dan kualitas bahan, bukan memilih satu jenis lemak secara ekstrem.
| Baca juga artikel ini:
Kualitas Lemak Bergantung pada Sumbernya
Hal yang sering dilupakan dalam diskusi nutrisi adalah bahwa kualitas bahan sangat bergantung pada sumbernya.
Karena itu, memilih produk dari sumber terpercaya menjadi sangat penting. Porky-Porky tidak hanya menyediakan daging babi lokal berkualitas, tetapi juga minyak babi (lard) berkualitas tinggi yang dihasilkan dari proses pengolahan yang higienis dan terkontrol.

Pesan minyak babi lokal berkualitas dari Porky-Porky di Shopee/Tokopedia untuk pemesanan area Jogja, hubungi tim marketing porky jika pemesanan di luar Jogja. Follow akun sosial media instagram, facebook dan tiktok Porky-Porky untuk mendapatkan update produk.
📚 Referensi ilmiah
source: Study Reveals Seed Oils Now Linked to Most Aggressive Type Of Breast Cancer and Colon Cancer
Linoleic acid and cancer mechanisms
PMCID: PMC9794145
Omega-6 fatty acids and inflammation
PMID: 29610056
Linoleic acid intake and cardiovascular outcomes
PMID: 25161045
Dietary polyunsaturated fats and cancer risk
PMID: 32020162
⚠️ Disclaimer
Artikel ini bertujuan sebagai informasi umum dan bukan pengganti nasihat medis profesional. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum melakukan perubahan besar pada pola makan Anda.



